Suaramedannews.com, Samosir – Tulisan ini merupakan refleksi bersama bagi kita sebagai bagian dari PPTSB—wadah besar keturunan Raja Sinaga yang telah berdiri sejak tahun 1940. Sejak awal berdirinya, organisasi ini tidak hanya berfungsi sebagai penjaga identitas genealogis, tetapi juga sebagai rumah kebersamaan yang mempersatukan seluruh keturunan dalam satu garis tarombo dan semangat persaudaraan.
Fondasi Awal (1940): Tarombo dan Kebersamaan
Sejak didirikan pada tahun 1940, PPTSB dibangun di atas kesadaran bahwa seluruh keturunan Raja Sinaga berasal dari satu akar yang sama. Prinsip Si Tolu Ompu Sisia Ama menjadi dasar yang menegaskan kesatuan tersebut.
Dari sinilah lahir nilai-nilai utama: kesetaraan, solidaritas, dan saling menghormati. Nilai ini bukan sekadar simbol, tetapi menjadi pedoman dalam kehidupan bersama sebagai satu marga besar.
Filosofi Leluhur: Nilai yang Menjadi Pedoman
Dalam perjalanan waktu, leluhur kita telah mewariskan filosofi hidup yang menjadi arah dalam berinteraksi dan menjaga persaudaraan:
• Parhatian Sibola Timbang (marga Sinaga wajib bersikap adil dan tidak memihak. Wajib menjunjung keadilan sebagai landasan hidup, berdiri teguh di tengah tanpa keberpihakan, serta menjauhkan diri dari segala bentuk kesewenang-wenangan.
• Parninggala Sibola Tali (marga Sinaga wajib menjaga hubungan agar tetap kuat dan tidak terputus. Dalam setiap langkah, ketulusan menjadi nafas, kejujuran menjadi cahaya, dan ketepatan dalam bertindak menjadi cermin kebijaksanaan.)
• Tu ginjang sora monggal tu toru sora meteleng (marga sinaga dalam setiap tindakn tidak berat sebelah dan bertindak objektif terhadap smua pihak tanpa melihat pangkat, jabatan dan status sosial)
• Mangangkat Rap Tu Ginjang (saling mengangkat/mengkatrol ketika ada yang berhasil)
• Manimbung Rap Tu Toru (saling menopang ketika ada yang mengalami kesulitan)
Filosofi ini mencerminkan keseimbangan: antara keadilan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial di antara sesama keturunan.
Perubahan dan Kekeliruan Narasi (Sebelum 2018)
Dalam perjalanannya, terjadi pergeseran dalam penulisan dan pemaknaan filosofi tersebut. Muncul versi yang dikenal sebagai:
“Parhatian Nasora Monggal, Parninggala Sibola Tali”
Namun, berdasarkan penelusuran dan pemahaman para tokoh, terdapat ketidaktepatan dalam frasa tersebut, khususnya pada bagian Parhatian Nasora Monggal yang tidak sesuai dengan makna asli yang diwariskan leluhur.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam perjalanan panjang organisasi, interpretasi dapat berubah, bahkan bergeser dari sumber aslinya.
Momentum Koreksi: Mubes ke-14 Tahun 2018 di Urat
Titik penting terjadi pada Musyawarah Besar (Mubes) ke-14 tahun 2018 di Urat. Dalam forum resmi tersebut, diputuskan bahwa filosofi yang digunakan harus dikembalikan kepada bentuk aslinya.
Keputusan tersebut menegaskan bahwa yang benar adalah:
“Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali”
Keputusan ini bukan sekadar perubahan redaksi, tetapi merupakan upaya mengembalikan jati diri dan nilai dasar yang otentik sesuai warisan leluhur.
Implementasi Pasca-2018: Kembali ke Aslinya
Setelah keputusan Mubes 2018, langkah konkret dilakukan dengan mengembalikan penulisan filosofi tersebut pada simbol-simbol resmi.
Salah satu wujudnya adalah pada relief di Tugu Toga Sinaga, yang kini telah tertulis:
“Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali”
Ini menjadi penegasan bahwa organisasi telah kembali pada akar nilai yang benar.
Namun demikian, dalam praktiknya masih terdapat sebagian anggota (haha/anggi) yang menggunakan versi lama. Hal ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan menjadi ruang edukasi bersama agar pemahaman yang benar dapat tersebar secara utuh.
Konteks Kekinian: Edukasi Tanpa Polemik
Dalam dinamika organisasi saat ini, penting bagi kita untuk menyampaikan pelurusan ini dengan cara yang bijak. Tujuannya bukan membuka ruang polemik, tetapi memberikan pemahaman yang benar kepada seluruh anggota.
Sebagaimana disampaikan dalam komunikasi internal, banyak yang belum mengetahui keputusan ini. Oleh karena itu, pendekatan yang diperlukan adalah edukatif, bukan konfrontatif.
Refleksi: PPTSB di Persimpangan Zaman
Hari ini, PPTSB berada di persimpangan zaman. Di satu sisi, kita memiliki warisan nilai yang kuat. Di sisi lain, kita menghadapi tantangan modernitas yang menuntut adaptasi. Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan: menjaga tarombo sebagai identitas, sekaligus merawat kebersamaan sebagai kekuatan. Mengembalikan filosofi kepada bentuk aslinya bukan sekadar koreksi historis, tetapi langkah penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai yang kita pegang tetap otentik dan relevan.
Penutup: Menjaga yang Asli, Merawat yang Hidup
Pada akhirnya, kekuatan kita bukan hanya terletak pada jumlah, tetapi pada kesatuan nilai.
Parhatian Sibola Timbang mengajarkan keadilan. Parninggala Sibola Tali mengajarkan keterhubungan.
Keduanya adalah fondasi untuk tetap utuh sebagai satu keluarga besar.
Maka tugas kita hari ini bukan hanya mewarisi, tetapi juga meluruskan, menjaga, dan meneruskan—dengan cara yang bijak dan penuh kebersamaan.
Penulis: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
Jumat (20/03/2026)
Editor: Royziki F.Sinaga